Loading ...
Edit Content
Click on the Edit Content button to edit/add the content.

Bahasa FYP Masuk Kantor? Tenang, Itu Bukan Dosa.

“Red flag banget sih.”
“Pick me banget vibes-nya.”

Kalau kamu Gen Z dan kerja di kantor apalagi di industri kreatif, media, startup, atau digital kemungkinan besar kalimat itu nggak cuma hidup di TikTok, tapi juga di ruang meeting. Dan jujur aja, itu bukan hal aneh. Kita tumbuh di era algoritma. Otak kita terbiasa nerima informasi dalam bentuk video 30 detik. Referensi kita internet. Humor kita internet. Reaksi kita juga internet. Jadi wajar kalau bahasa yang kita pakai ikut kebawa ke dunia kerja. Masalahnya, kantor itu bukan cuma Gen Z. Ada milenial. Ada Gen X. Ada yang nggak pernah hidup di FYP. Jadi waktu kita bilang “ini red flag banget”, mereka bisa mikir, “Red flag apaan?” Sebenarnya ini bukan soal bahasa. Ini soal referensi.

Buat Gen Z, TikTok itu bukan cuma hiburan. Itu cultural engine. Tempat tren lahir, opini publik kebentuk, dan simbol-simbol baru diproduksi tiap hari. Kalau kamu kerja di bidang kreatif, marketing, atau komunikasi, kamu nggak mungkin ignore itu. Bahasa viral itu insight. Itu cara publik bereaksi. Jadi waktu istilah FYP masuk kantor, itu bukan gaya-gayaan. Itu refleksi dari dunia yang memang kita konsumsi setiap hari.

Tapi apakah itu profesional?

Profesional itu bukan soal formal atau nggaknya bahasa. Profesional itu soal konteks dan awareness. Kalau kamu pakai bahasa viral ke klien formal di email resmi, ya jelas salah tempat. Tapi kalau kamu lagi diskusi internal dan bilang, “Fix no debat, kita pakai konsep ini aja biar gak red flag” dan semua orang ngerti, itu justru efisien. Gen Z sebenarnya nggak asal pakai semua istilah viral. Kita punya dua mode: mode FYP dan mode formal. Kita bisa switch. Dan kemampuan switch itu juga bagian dari kecerdasan komunikasi.

Yang bikin gesekan adalah ketika simbol yang kita anggap biasa, dianggap kurang profesional oleh generasi lain. Tapi jujur aja, setiap generasi pasti pernah ngalamin fase ini. Dulu mungkin email dianggap terlalu santai dibanding surat resmi. Sekarang bahasa internet dianggap terlalu santai dibanding bahasa korporat.

Padahal ini cuma evolusi.

Bahasa selalu berubah. Simbol selalu berkembang. Internet cuma mempercepat siklusnya. Dan kalau mau lebih jujur lagi, bahasa viral itu bukan cuma kata lucu. Itu identitas. Waktu kita bilang “red flag”, itu bukan sekadar metafora. Itu simbol yang punya makna kolektif. Ada konteks. Ada pengalaman bersama. Itu bikin sesama Gen Z cepat nyambung.

Masalah muncul kalau maknanya nggak shared. Jadi solusinya bukan melarang bahasa viral. Tapi bikin jembatan. Gen Z belajar baca konteks. Generasi lain belajar nggak langsung nge-judge. Karena komunikasi itu bukan soal siapa paling formal, tapi siapa paling dipahami. Dan kalau sekarang kamu masih kaget dengar “fix no debat” di ruang meeting, coba siap-siap beberapa tahun lagi. Karena setelah Gen Z, yang akan masuk dunia kerja adalah Gen Alpha—dan bahasa mereka bahkan lebih absurd, lebih cepat, dan lebih algoritmik.

Gen Alpha sudah tumbuh dengan kosakata seperti:
“rizz”
“skibidi”
“gyatt”
“fanum tax”
“sigma”
“delulu”

Bayangin lima sampai sepuluh tahun lagi ada anak magang bilang, “Ini konsepnya kurang rizz deh,” atau, “Client-nya sigma banget vibes-nya.”

Kedengarannya chaos? Iya.
Tapi realistis? Juga iya. Karena dunia kerja ke depan bukan cuma multigenerasi. Tapi multi-algoritma. Dan kalau kita nggak siap adaptif, yang tertinggal bukan cuma tren tapi cara orang berpikir. Jadi bahasa FYP masuk kantor itu bukan krisis. Itu tanda dunia kerja lagi berubah.

Ini bukan akhir dunia.
Ini cuma trailer.

Sequel-nya? Gen Alpha.

Dan besar kemungkinan nanti kita yang bilang,
“Duh, anak sekarang bahasanya apaan sih…”

Circle of life. Fix no debat.

Edit Content
Click on the Edit Content button to edit/add the content.

Kami percaya bahwa kolaborasi yang solid dapat menghasilkan hasil yang luar biasa.

Headquarter

Jl. Terusan Halimun No.50, Lkr. Sel., Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40264