
Pernah nggak sih kamu duduk sebentar, lalu kepikiran…
“Kok orang tua kita dulu bisa beli rumah, ya? Padahal kerjaannya biasa aja.”
Sementara sekarang, kita kerja full-time, punya side hustle, freelance sana-sini, bahkan personal branding dibangun mati-matian… tapi harga rumah rasanya makin menjauh, bukan mendekat. Ini bukan cuma overthinking tengah malam. Ini realitas generasi kita. Dan yang lebih bikin mikir lagi. Kalau orang tua kita bisa mewariskan rumah ke kita, apakah kita juga akan punya sesuatu untuk diwariskan nanti? Atau kita justru jadi generasi yang berhenti di tengah jalan?
Di era orang tua dan kakek nenek kita, rumah adalah kebutuhan primer. Harga tanah masih relatif terjangkau. Kota belum sepadat sekarang. Spekulasi properti belum segila hari ini. Banyak orang bisa membeli rumah dengan satu pekerjaan tetap, bahkan dengan penghasilan yang sederhana.
Rumah berubah jadi aset investasi. Tanah jadi komoditas. Banyak properti dibeli bukan untuk dihuni, tapi untuk disewakan atau ditahan sebagai instrumen finansial. Harga properti di kota besar naik terus setiap tahun, sementara kenaikan pendapatan generasi muda tidak bergerak secepat itu. Data Bank Indonesia menunjukkan indeks harga properti residensial terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, daya beli generasi muda cenderung stagnan karena tekanan biaya hidup dan ketidakstabilan pekerjaan. Artinya, rumah makin jauh dari logika “kebutuhan”. Ia masuk ke logika “pasar”. Dan ketika sesuatu tunduk pada pasar, yang kuat yang menang.

Narasi yang sering muncul adalah:
“Dulu nggak ada online shop.”
“Dulu nggak ada es kopi 30 ribu tiap hari.”
“Dulu nggak ada paylater.”
Memang benar, pengeluaran generasi sekarang lebih kompleks. Kita hidup dengan subscription digital, cicilan gadget, biaya internet, lifestyle WFC, dan impulsif shopping yang dipicu algoritma.
Kalau kamu menghemat kopi 30 ribu per hari, kamu mungkin bisa menabung sekitar 10 juta per tahun. Sementara harga rumah di kota besar bisa naik ratusan juta dalam beberapa tahun. Jadi apakah kopi penyebab utama? Rasanya tidak sesederhana itu. Masalahnya lebih struktural: harga tanah naik cepat, urbanisasi padat, properti jadi alat investasi, dan generasi muda menghadapi pasar kerja yang lebih tidak stabil dibanding generasi sebelumnya. Realitasnya, sebagian Gen Z mungkin masih akan memiliki aset karena menerima warisan dari orang tua. Tapi pertanyaannya bukan hanya soal menerima. Apakah kita bisa menciptakan aset baru untuk diwariskan lagi?
Kalau harga properti terus naik, dan daya beli generasi muda tidak ikut naik secara signifikan, maka potensi akumulasi aset akan makin sulit.
Ini bukan cuma soal beli rumah pertama. Ini soal keberlanjutan warisan antar generasi. Kalau satu generasi gagal membangun aset, maka mata rantai warisan bisa terputus. Dan itu bukan cuma isu individu. Itu isu sosial. Orang tua kita banyak yang bekerja 20–30 tahun di satu tempat. Stabil. Ada jenjang. Ada jaminan.
Sekarang? Kontrak. Freelance. Gig economy. Startup yang bisa collapse. PHK massal. Side hustle jadi normal. Generasi sekarang bekerja keras, bahkan lebih keras. Tapi sistemnya berbeda. Stabilitas finansial lebih rapuh. Akses kepemilikan aset lebih sulit. Jadi bukan berarti Gen Z malas atau tidak ambisius. Mereka hanya bermain di papan permainan yang aturannya berubah.
Ada beberapa kemungkinan.
Pertama, konsep warisan bisa berubah. Mungkin generasi mendatang tidak lagi mewariskan rumah tapak di pusat kota, tapi aset lain: investasi, bisnis digital, properti di kota satelit, atau bahkan financial portfolio. Kedua, pola tinggal bisa berubah. Co-living, sewa jangka panjang, atau mobilitas tinggi bisa menjadi hal yang normal. Memiliki rumah mungkin bukan lagi satu-satunya simbol kesuksesan. Ketiga, kebijakan publik akan sangat menentukan. Subsidi KPR, perumahan rakyat, pengendalian spekulasi tanah, dan pemerataan ekonomi akan memengaruhi apakah kepemilikan rumah tetap realistis atau tidak. Kekhawatiran Gen Z itu wajar dan rasional. Ini bukan generasi manja. Ini generasi yang hidup di ekonomi yang lebih mahal, lebih cepat, dan lebih kompetitif.
Isu warisan bukan cuma tentang rumah. Ini tentang mobilitas sosial. Tentang apakah setiap generasi masih punya peluang untuk naik, bukan hanya bertahan. Kalau satu generasi hanya mampu bertahan tanpa membangun aset, maka ketimpangan akan makin lebar.
Apakah kita sedang bergerak menuju generasi penerima warisan terakhir?
Orang tua kita mungkin bisa berkata, “Yang penting kerja keras, nanti juga kebeli rumah.” Tapi realitas hari ini tidak sesederhana itu. Gen Z bukan tidak ingin punya rumah. Mereka hanya sadar bahwa garis start mereka berbeda. Warisan dulu terasa seperti sesuatu yang pasti. Sekarang, ia terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan dua kali lebih keras. Kalau orang tua bisa mewariskan rumah ke kita, apakah kita masih punya kesempatan yang sama untuk mewariskan sesuatu ke generasi setelah kita?
Atau kita akan jadi generasi yang menerima, tapi tidak sempat meneruskan?

Kalau kamu Gen Z dan kerja di kantor apalagi di industri kreatif, media, startup, atau digital kemungkinan besar kalimat itu nggak cuma hidup di TikTok, tapi juga di ruang meeting. Dan jujur aja, itu bukan hal aneh. Kita tumbuh di era algoritma. Otak kita terbiasa nerima informasi dalam bentuk video 30 detik. Referensi kita internet. Humor kita internet. Reaksi kita juga internet. Jadi wajar kalau bahasa yang kita pakai ikut kebawa ke dunia kerja. Masalahnya, kantor itu bukan cuma Gen Z. Ada milenial. Ada Gen X. Ada yang nggak pernah hidup di FYP. Jadi waktu kita bilang “ini red flag banget”, mereka bisa mikir, “Red flag apaan?” Sebenarnya ini bukan soal bahasa. Ini soal referensi.
Buat Gen Z, TikTok itu bukan cuma hiburan. Itu cultural engine. Tempat tren lahir, opini publik kebentuk, dan simbol-simbol baru diproduksi tiap hari. Kalau kamu kerja di bidang kreatif, marketing, atau komunikasi, kamu nggak mungkin ignore itu. Bahasa viral itu insight. Itu cara publik bereaksi. Jadi waktu istilah FYP masuk kantor, itu bukan gaya-gayaan. Itu refleksi dari dunia yang memang kita konsumsi setiap hari.
Profesional itu bukan soal formal atau nggaknya bahasa. Profesional itu soal konteks dan awareness. Kalau kamu pakai bahasa viral ke klien formal di email resmi, ya jelas salah tempat. Tapi kalau kamu lagi diskusi internal dan bilang, “Fix no debat, kita pakai konsep ini aja biar gak red flag” dan semua orang ngerti, itu justru efisien. Gen Z sebenarnya nggak asal pakai semua istilah viral. Kita punya dua mode: mode FYP dan mode formal. Kita bisa switch. Dan kemampuan switch itu juga bagian dari kecerdasan komunikasi.
Yang bikin gesekan adalah ketika simbol yang kita anggap biasa, dianggap kurang profesional oleh generasi lain. Tapi jujur aja, setiap generasi pasti pernah ngalamin fase ini. Dulu mungkin email dianggap terlalu santai dibanding surat resmi. Sekarang bahasa internet dianggap terlalu santai dibanding bahasa korporat.
Bahasa selalu berubah. Simbol selalu berkembang. Internet cuma mempercepat siklusnya. Dan kalau mau lebih jujur lagi, bahasa viral itu bukan cuma kata lucu. Itu identitas. Waktu kita bilang “red flag”, itu bukan sekadar metafora. Itu simbol yang punya makna kolektif. Ada konteks. Ada pengalaman bersama. Itu bikin sesama Gen Z cepat nyambung.
Masalah muncul kalau maknanya nggak shared. Jadi solusinya bukan melarang bahasa viral. Tapi bikin jembatan. Gen Z belajar baca konteks. Generasi lain belajar nggak langsung nge-judge. Karena komunikasi itu bukan soal siapa paling formal, tapi siapa paling dipahami. Dan kalau sekarang kamu masih kaget dengar “fix no debat” di ruang meeting, coba siap-siap beberapa tahun lagi. Karena setelah Gen Z, yang akan masuk dunia kerja adalah Gen Alpha—dan bahasa mereka bahkan lebih absurd, lebih cepat, dan lebih algoritmik.
Gen Alpha sudah tumbuh dengan kosakata seperti:
“rizz”
“skibidi”
“gyatt”
“fanum tax”
“sigma”
“delulu”
Bayangin lima sampai sepuluh tahun lagi ada anak magang bilang, “Ini konsepnya kurang rizz deh,” atau, “Client-nya sigma banget vibes-nya.”
Kedengarannya chaos? Iya.
Tapi realistis? Juga iya. Karena dunia kerja ke depan bukan cuma multigenerasi. Tapi multi-algoritma. Dan kalau kita nggak siap adaptif, yang tertinggal bukan cuma tren tapi cara orang berpikir. Jadi bahasa FYP masuk kantor itu bukan krisis. Itu tanda dunia kerja lagi berubah.
Ini bukan akhir dunia.
Ini cuma trailer.
Dan besar kemungkinan nanti kita yang bilang,
“Duh, anak sekarang bahasanya apaan sih…”
Circle of life. Fix no debat.
Kami percaya bahwa kolaborasi yang solid dapat menghasilkan hasil yang luar biasa.
Jl. Terusan Halimun No.50, Lkr. Sel., Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40264